Seri Leadership
: Tokoh Pemikir Mulla Sadra
Mulla Sadra (1571–1640 M) sebenarnya hidup di
masa klasik-pasca (era Safawid), namun pemikirannya dianggap sangat
"modern" karena melampaui zamannya. Metafisika yang ia bangun dalam
mahakaryanya, Al-Hikmah al-Muta’aliyah (Hikmah Transenden), memberikan
jembatan yang unik antara sains kontemporer dan spiritualitas.
Berikut
adalah ulasan mendalam mengenai bagaimana pemikiran Sadra beresonansi dengan
isu-isu masa kini:
Gerakan
Transubstansial (Al-Harakah al-Jauhariyah) dan Fisika Modern
Salah satu kontribusi terbesar Sadra adalah
ide bahwa alam semesta tidak statis. Menurutnya, zat atau esensi dari segala
sesuatu terus berubah dan bergerak menuju kesempurnaan.
- Relevansi Kontemporer:
Gagasan ini sangat selaras dengan Fisika Quantum dan teori
relativitas, di mana materi tidak lagi dipandang sebagai benda padat yang
diam, melainkan sebagai gumpalan energi yang bergetar dan terus berubah.
- Sisi Spiritual:
Gerakan ini menunjukkan bahwa seluruh alam semesta sedang
"bermigrasi" menuju Tuhan. Tidak ada pemisahan antara materi dan
roh; materi adalah bentuk roh yang paling padat, dan roh adalah bentuk
materi yang paling halus.
Unitas
Wujud (Wahdat al-Wujud) dan Ekologi
Sadra berpendapat bahwa keberadaan (wujud)
adalah satu realitas yang memiliki tingkatan intensitas yang berbeda (seperti
cahaya yang terang dan redup).
- Ilmu Pengetahuan: Dalam
studi ekologi dan sistem biologi modern, kita melihat keterhubungan antar
semua makhluk hidup. Pemikiran Sadra memberikan landasan filosofis bahwa
merusak alam sama saja dengan merusak bagian dari kesatuan wujud tersebut.
- Sisi Spiritual: Ini
menciptakan kesadaran akan "kehadiran Tuhan" dalam setiap atom.
Ilmu pengetahuan bukan sekadar observasi objek mati, melainkan pengamatan
terhadap tanda-tanda (ayat) Tuhan.
Epistemologi:
Pengetahuan melalui Kehadiran (al-Ilm al-Hudhuri)
Dalam sains modern, objektivitas adalah kunci.
Namun, Sadra menawarkan perspektif berbeda tentang bagaimana manusia memperoleh
pengetahuan.
- Sains Kognitif & Psikologi: Sadra
menekankan bahwa pengetahuan sejati terjadi ketika subjek (peneliti) dan
objek (yang diteliti) menyatu. Ini mulai dibahas dalam diskursus kesadaran
(consciousness studies) modern, di mana pengamat mempengaruhi apa
yang diamati.
- Sisi Spiritual:
Pengetahuan bukan sekadar akumulasi data, melainkan transformasi jiwa.
Semakin seseorang mengetahui, semakin tinggi derajat spiritualitasnya.
Eskatologi dan Evolusi Jiwa
Sadra melihat bahwa jiwa manusia mengalami
evolusi dari bentuk fisik (saat lahir) menuju bentuk spiritual murni (setelah
mati).
- Neuroscience:
Sementara sains fokus pada fungsi otak, Sadra memberikan dimensi tambahan
bahwa kesadaran tidak terbatas pada materi abu-abu di otak. Jiwa
menggunakan otak sebagai alat, namun jiwa sendiri terus berkembang
melampaui keterbatasan biologis.
Perbandingan
Singkat: Pendekatan Sadra vs Materialisme Modern
|
Aspek |
Materialisme Modern |
Hikmah Transenden (Sadra) |
|
Alam Semesta |
Mesin yang diatur hukum fisika |
Organisme hidup yang terus bergerak (transubstansial) |
|
Tujuan Sains |
Eksploitasi dan kontrol alam |
Mengenal asal-usul dan tujuan keberadaan |
|
Jiwa/Kesadaran |
Produk sampingan dari proses kimia otak |
Esensi utama yang berevolusi menuju kesempurnaan |
Pemikiran Mulla Sadra sangat relevan bagi Anda yang ingin melihat sains bukan sebagai musuh agama, melainkan sebagai cara untuk memahami bagaimana "Wujud" bermanifestasi di dunia fisik.
Integrasi:
Sains, Spiritual, dan Masa Depan
Mulla Sadra menawarkan solusi bagi
"kegersangan" sains modern. Jika sains modern hanya menjawab
pertanyaan "bagaimana" (mekanisme), Sadra menjawab pertanyaan "mengapa"
(makna).
- Sains sebagai Ibadah: Dalam
perspektif Sadra, seorang fisikawan yang meneliti atom sebenarnya sedang
meneliti "gerakan cinta" atom tersebut menuju kesempurnaan
Ilahi.
- Kesehatan Mental/Spiritual: Memahami
bahwa jiwa kita sedang berevolusi membantu manusia modern mengatasi
eksistensialisme. Kita bukan sekadar mesin biologis, melainkan entitas
yang sedang dalam perjalanan transendental.
Mulla Sadra
memberikan "nyawa" pada temuan-temuan sains modern. Tanpa filsafat
seperti Sadra, Fisika Quantum dan Evolusi seringkali membuat manusia merasa
kecil dan tidak berarti. Namun dengan Sadra, penemuan tersebut justru menjadi
bukti betapa agungnya perjalanan setiap atom di alam semesta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar