Manusia pintar bisa menjadi licik, dan yang kuat bisa menjadi kejam, tanpa Taqwa
Di tengah
dunia yang semakin gaduh oleh ambisi, penjajahan gaya modern dengan berkedok
kebijaksan yang diatur sepihak, dimana yang menurut dianggap mitra strategis,
sedangkan yang menolak dianggap rezm otoriter, negara teroris dan berbagai label
lainnya, kompetisi tanpa etika, dan krisis makna, manusia modern sesungguhnya
tidak kekurangan ilmu maupun teknologi. Yang langka justru pegangan hidup.
Di titik seorang
pemimpin Islam di masa lampau memberikan pegangan kepada kita semua yang sampai
saat ini masih relevel, belaiu Adalah Imam Ali bin Abi
Thalib.
Imam Ali as
tidak mewariskan teori kosong. Ia meletakkan prinsip hidup yang membentuk
manusia secara utuh: ruhani, intelektual, dan sosial.
Lima
pegangan hidup ini bukan hanya untuk orang saleh di mimbar, tetapi untuk siapa
pun yang ingin tetap waras dan bermartabat di zaman yang serba cepat.
Takwa
sebagai Fondasi
Beliau menegaskan bahwa takwa adalah benteng paling kokoh, takwa bukan
sekadar ritual, melainkan kesadaran eksistensial bahwa hidup selalu
berada dalam pengawasan Allah. Inilah fondasi moral yang mencegah kekuasaan
berubah menjadi kezaliman dan kecerdasan berubah menjadi manipulasi.
Tanpa
takwa, manusia pintar bisa menjadi licik, dan yang kuat bisa menjadi kejam.
Krisis
kepemimpinan hari ini bukan karena kurangnya strategi, tetapi karena hilangnya
rasa takut berbuat salah.
Ilmu sebagai Cahaya
Beliau
menempatkan ilmu di atas harta. Ilmu membimbing, sementara harta sering
membutakan. Ilmu yang dimaksud bukan sekadar informasi, tetapi ilmu yang
melahirkan adab dan kebijaksanaan.
Di era
digital yang distruktif, informasi berlimpah tetapi kebijaksanaan menipis.
Banyak yang tahu, sedikit yang paham.
Ilmu tanpa akhlak justru melahirkan arogansi
intelektual—fenomena yang kini mudah kita temui di ruang publik dan media
sosial.
Akhlak
sebagai Identitas
Akhlak
sebagai ukuran sejati manusia. Jabatan, gelar, dan pengaruh hanyalah atribut
luar. Akhlak adalah bahasa universal yang bisa dipahami siapa pun, bahkan tanpa
ceramah.
Masyarakat
hari ini lelah pada tokoh yang fasih bicara tetapi miskin keteladanan. Akhlak
adalah bentuk dakwah paling jujur, karena ia tidak bisa dipalsukan dalam jangka
panjang.
Sabar dan
Syukur sebagai Kematangan Jiwa
Sabar
sebagai kendaraan yang tidak pernah tergelincir. Dalam penjelasan beliau, sabar
dan syukur adalah dua sisi kedewasaan ruhani: sabar saat sempit, syukur saat
lapang.
Generasi
hari ini diajarkan mengejar hasil, tetapi jarang diajarkan menerima proses.
Padahal, hidup tidak selalu sesuai rencana, namun selalu sesuai hikmah Allah.
Sabar dan syukur menjadikan manusia tetap utuh di tengah naik-turun kehidupan.
Zuhud dan
Orientasi Akhirat
Zuhud dalam
pandangan Imam Ali as bukan menolak dunia, melainkan tidak diperbudak
olehnya. Ust. Muhammad bin Alwi BSA menekankan bahwa dunia harus berada di
tangan, bukan di hati.
Ketika
dunia menjadi tujuan utama, manusia mudah menghalalkan segala cara. Namun
ketika akhirat menjadi orientasi, dunia justru dikelola dengan adil dan
bertanggung jawab.
Lima
pegangan hidup Imam Ali as ini menawarkan peta jalan bagi manusia modern yang
sedang kehilangan arah. Takwa menata niat, ilmu menerangi langkah, akhlak
menjaga martabat, sabar dan syukur menguatkan jiwa, sementara orientasi akhirat
menyelamatkan tujuan.
Di zaman
ketika segala sesuatu bisa dibeli kecuali ketenangan batin, warisan Imam Ali as
mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bukan pada seberapa cepat kita melaju,
tetapi ke mana kita menuju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar