Selasa, 27 Januari 2026

 Manusia pintar bisa menjadi licik, dan yang kuat bisa menjadi kejam, tanpa Taqwa

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ambisi, penjajahan gaya modern dengan berkedok kebijaksan yang diatur sepihak, dimana yang menurut dianggap mitra strategis, sedangkan yang menolak dianggap rezm otoriter, negara teroris dan berbagai label lainnya, kompetisi tanpa etika, dan krisis makna, manusia modern sesungguhnya tidak kekurangan ilmu maupun teknologi. Yang langka justru pegangan hidup.

Di titik seorang pemimpin Islam di masa lampau memberikan pegangan kepada kita semua yang sampai saat ini masih relevel, belaiu Adalah Imam Ali bin  Abi  Thalib.

Imam Ali as tidak mewariskan teori kosong. Ia meletakkan prinsip hidup yang membentuk manusia secara utuh: ruhani, intelektual, dan sosial.

Lima pegangan hidup ini bukan hanya untuk orang saleh di mimbar, tetapi untuk siapa pun yang ingin tetap waras dan bermartabat di zaman yang serba cepat.

Takwa sebagai Fondasi

Beliau menegaskan bahwa takwa adalah benteng paling kokoh, takwa bukan sekadar ritual, melainkan kesadaran eksistensial bahwa hidup selalu berada dalam pengawasan Allah. Inilah fondasi moral yang mencegah kekuasaan berubah menjadi kezaliman dan kecerdasan berubah menjadi manipulasi.

Tanpa takwa, manusia pintar bisa menjadi licik, dan yang kuat bisa menjadi kejam.

Krisis kepemimpinan hari ini bukan karena kurangnya strategi, tetapi karena hilangnya rasa takut berbuat salah.

Ilmu sebagai Cahaya

Beliau menempatkan ilmu di atas harta. Ilmu membimbing, sementara harta sering membutakan. Ilmu yang dimaksud bukan sekadar informasi, tetapi ilmu yang melahirkan adab dan kebijaksanaan.

Di era digital yang distruktif, informasi berlimpah tetapi kebijaksanaan menipis. Banyak yang tahu, sedikit yang paham.

Ilmu tanpa akhlak justru melahirkan arogansi intelektual—fenomena yang kini mudah kita temui di ruang publik dan media sosial.

Akhlak sebagai Identitas

Akhlak sebagai ukuran sejati manusia. Jabatan, gelar, dan pengaruh hanyalah atribut luar. Akhlak adalah bahasa universal yang bisa dipahami siapa pun, bahkan tanpa ceramah.

Masyarakat hari ini lelah pada tokoh yang fasih bicara tetapi miskin keteladanan. Akhlak adalah bentuk dakwah paling jujur, karena ia tidak bisa dipalsukan dalam jangka panjang.

Sabar dan Syukur sebagai Kematangan Jiwa

Sabar sebagai kendaraan yang tidak pernah tergelincir. Dalam penjelasan beliau, sabar dan syukur adalah dua sisi kedewasaan ruhani: sabar saat sempit, syukur saat lapang.

Generasi hari ini diajarkan mengejar hasil, tetapi jarang diajarkan menerima proses. Padahal, hidup tidak selalu sesuai rencana, namun selalu sesuai hikmah Allah. Sabar dan syukur menjadikan manusia tetap utuh di tengah naik-turun kehidupan.

Zuhud dan Orientasi Akhirat

Zuhud dalam pandangan Imam Ali as bukan menolak dunia, melainkan tidak diperbudak olehnya. Ust. Muhammad bin Alwi BSA menekankan bahwa dunia harus berada di tangan, bukan di hati.

Ketika dunia menjadi tujuan utama, manusia mudah menghalalkan segala cara. Namun ketika akhirat menjadi orientasi, dunia justru dikelola dengan adil dan bertanggung jawab.

Lima pegangan hidup Imam Ali as ini menawarkan peta jalan bagi manusia modern yang sedang kehilangan arah. Takwa menata niat, ilmu menerangi langkah, akhlak menjaga martabat, sabar dan syukur menguatkan jiwa, sementara orientasi akhirat menyelamatkan tujuan.

Di zaman ketika segala sesuatu bisa dibeli kecuali ketenangan batin, warisan Imam Ali as mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bukan pada seberapa cepat kita melaju, tetapi ke mana kita menuju.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar