Minggu, 25 Januari 2026

Ketika Mata Uang Tak Lagi Berharga : Pelajaran Ketahanan Bangsa dari Iran

Salah satu senjata paling mematikan dalam geopolitik modern bukan lagi bom atau rudal, melainkan sanksi ekonomi. Ketika sebuah negara diputus dari sistem keuangan global, mata uangnya dihantam, akses perdagangan dibatasi, dan rakyat dipaksa menanggung dampaknya. Dalam kondisi seperti itu, banyak negara runtuh perlahan. Namun Iran justru memilih jalan sebaliknya: bertahan dengan membangun ekonomi benteng.

Selama lebih dari empat dekade, Iran hidup di bawah embargo Amerika Serikat dan sekutunya. Nilai mata uang rial terjun bebas, inflasi melonjak, dan akses ke dolar—mata uang hegemon dunia—nyaris tertutup. Dalam logika ekonomi liberal, kondisi ini seharusnya membuat sebuah negara kolaps. Tapi Iran membaca situasi dengan sudut pandang berbeda: sanksi bukan akhir, melainkan pemicu rekayasa ulang ekonomi nasional.

Memutus Ketergantungan sebagai Strategi Bertahan

Pelajaran paling penting dari Iran adalah keberanian untuk memutus ketergantungan. Ketika impor menjadi mahal dan sulit, Iran tidak terus mengeluh atau menunggu keringanan, melainkan mengubah arah kebijakan: swasembada sebagai jalan perlawanan.

Sektor pangan menjadi prioritas utama. Negara memastikan produksi gandum, beras, dan kebutuhan pokok lain cukup untuk menopang rakyatnya. Subsidi diarahkan bukan untuk memanjakan, tetapi untuk menjaga daya hidup masyarakat. Logikanya sederhana: rakyat yang lapar tidak mungkin berpikir jernih, apalagi bertahan dalam tekanan geopolitik jangka panjang.

Di sektor energi, Iran menjadikan embargo sebagai momentum kemandirian. Dengan cadangan minyak dan gas besar, mereka mengembangkan industri hilir, memperkuat kilang, dan memastikan kebutuhan energi domestik terpenuhi. Ketika ekspor dibatasi, konsumsi dalam negeri dan pengolahan lokal menjadi sandaran utama.

Membangun Basis Manufaktur Nasional

Ketergantungan pada produk impor adalah titik lemah negara yang disanksi. Iran menjawabnya dengan memperkuat basis manufaktur dalam negeri. Industri baja, semen, petrokimia, hingga alat-alat berat dikembangkan secara agresif. Tidak semuanya sempurna, tidak semuanya efisien menurut standar global, tetapi cukup untuk memastikan roda ekonomi tetap berputar.

Lebih dari itu, Iran menanamkan satu prinsip penting: kemampuan memproduksi sendiri lebih berharga daripada efisiensi jangka pendek. Dalam kondisi normal, produk impor mungkin lebih murah. Namun dalam kondisi perang ekonomi, kemampuan produksi lokal adalah soal kedaulatan.

 Ekonomi Bayangan dan Sistem Barter

Ketika sistem keuangan internasional menjadi alat tekanan politik, Iran membangun apa yang sering disebut sebagai shadow economy—ekonomi bayangan yang tidak sepenuhnya terdeteksi atau dikendalikan oleh lawan. Perdagangan dilakukan melalui jaringan negara sahabat, perusahaan perantara, dan mekanisme non-konvensional.

Di sinilah barter system kembali menemukan relevansinya. Minyak ditukar dengan pangan, teknologi, atau kebutuhan strategis lain. Tanpa harus bergantung pada dolar, transaksi tetap berjalan. Sistem ini mungkin terlihat kuno, tetapi justru efektif dalam menghindari mata uang yang nilainya terus tergerus dan sistem keuangan yang dimanipulasi.

Negara dan Rakyat: Hubungan Saling Menopang

Ketahanan Iran tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. Dalam kondisi sulit, terbentuk kesadaran kolektif bahwa bertahan adalah proyek bersama. Negara berperan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi—pangan, energi, transportasi—dengan harga terjangkau. Rakyat, di sisi lain, menerima kenyataan hidup sederhana sebagai bagian dari perjuangan jangka panjang.

Model ini tentu tidak romantis. Inflasi tetap ada, keterbatasan tetap dirasakan. Namun ada satu hal yang dijaga: martabat hidup rakyat tidak dibiarkan runtuh. Harga-harga kebutuhan pokok dikendalikan, layanan publik tetap berjalan, dan negara hadir sebagai pelindung, bukan sekadar regulator.

Pelajaran bagi Dunia Berkembang

Apa yang dilakukan Iran bukan tanpa risiko, juga bukan tanpa kritik. Namun dalam dunia yang semakin tidak adil, di mana mata uang, utang, dan sistem keuangan global sering dijadikan alat dominasi, pengalaman Iran memberi pelajaran penting: ketahanan bangsa tidak selalu lahir dari keterbukaan total, tetapi dari kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.

Ketika mata uang tidak lagi berharga, yang tersisa adalah pangan, energi, produksi, dan solidaritas sosial. Negara yang mampu mengamankan empat hal itu akan tetap bertahan, bahkan di bawah tekanan paling keras sekalipun.

Dalam konteks global hari ini, pertanyaannya bukan lagi apakah sanksi efektif, melainkan: siapa yang lebih siap menghadapi dunia tanpa belas kasihan ekonomi global. Iran telah memilih jalannya—jalan yang mahal, keras, tetapi berdaulat.



www.pt-afiralintaspersada.web.id


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar