Ketika Mata Uang Tak Lagi Berharga : Pelajaran Ketahanan Bangsa dari
Iran
Salah satu
senjata paling mematikan dalam geopolitik modern bukan lagi bom atau rudal,
melainkan sanksi ekonomi. Ketika sebuah negara diputus dari sistem
keuangan global, mata uangnya dihantam, akses perdagangan dibatasi, dan rakyat
dipaksa menanggung dampaknya. Dalam kondisi seperti itu, banyak negara runtuh
perlahan. Namun Iran justru memilih jalan sebaliknya: bertahan dengan
membangun ekonomi benteng.
Selama
lebih dari empat dekade, Iran hidup di bawah embargo Amerika Serikat dan
sekutunya. Nilai mata uang rial terjun bebas, inflasi melonjak, dan akses ke
dolar—mata uang hegemon dunia—nyaris tertutup. Dalam logika ekonomi liberal,
kondisi ini seharusnya membuat sebuah negara kolaps. Tapi Iran membaca situasi
dengan sudut pandang berbeda: sanksi bukan akhir, melainkan pemicu rekayasa
ulang ekonomi nasional.
Memutus
Ketergantungan sebagai Strategi Bertahan
Pelajaran
paling penting dari Iran adalah keberanian untuk memutus ketergantungan. Ketika
impor menjadi mahal dan sulit, Iran tidak terus mengeluh atau menunggu
keringanan, melainkan mengubah arah kebijakan: swasembada sebagai jalan
perlawanan.
Sektor
pangan menjadi prioritas utama. Negara memastikan produksi gandum, beras, dan
kebutuhan pokok lain cukup untuk menopang rakyatnya. Subsidi diarahkan bukan
untuk memanjakan, tetapi untuk menjaga daya hidup masyarakat. Logikanya
sederhana: rakyat yang lapar tidak mungkin berpikir jernih, apalagi bertahan
dalam tekanan geopolitik jangka panjang.
Di sektor
energi, Iran menjadikan embargo sebagai momentum kemandirian. Dengan cadangan
minyak dan gas besar, mereka mengembangkan industri hilir, memperkuat kilang,
dan memastikan kebutuhan energi domestik terpenuhi. Ketika ekspor dibatasi,
konsumsi dalam negeri dan pengolahan lokal menjadi sandaran utama.
Membangun
Basis Manufaktur Nasional
Ketergantungan
pada produk impor adalah titik lemah negara yang disanksi. Iran menjawabnya
dengan memperkuat basis manufaktur dalam negeri. Industri baja, semen,
petrokimia, hingga alat-alat berat dikembangkan secara agresif. Tidak semuanya
sempurna, tidak semuanya efisien menurut standar global, tetapi cukup untuk
memastikan roda ekonomi tetap berputar.
Lebih dari
itu, Iran menanamkan satu prinsip penting: kemampuan memproduksi sendiri
lebih berharga daripada efisiensi jangka pendek. Dalam kondisi normal,
produk impor mungkin lebih murah. Namun dalam kondisi perang ekonomi, kemampuan
produksi lokal adalah soal kedaulatan.
Ekonomi
Bayangan dan Sistem Barter
Ketika
sistem keuangan internasional menjadi alat tekanan politik, Iran membangun apa
yang sering disebut sebagai shadow economy—ekonomi bayangan yang tidak
sepenuhnya terdeteksi atau dikendalikan oleh lawan. Perdagangan dilakukan
melalui jaringan negara sahabat, perusahaan perantara, dan mekanisme
non-konvensional.
Di sinilah barter
system kembali menemukan relevansinya. Minyak ditukar dengan pangan,
teknologi, atau kebutuhan strategis lain. Tanpa harus bergantung pada dolar,
transaksi tetap berjalan. Sistem ini mungkin terlihat kuno, tetapi justru
efektif dalam menghindari mata uang yang nilainya terus tergerus dan sistem
keuangan yang dimanipulasi.
Negara dan
Rakyat: Hubungan Saling Menopang
Ketahanan
Iran tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh partisipasi
masyarakat. Dalam kondisi sulit, terbentuk kesadaran kolektif bahwa
bertahan adalah proyek bersama. Negara berperan memastikan kebutuhan dasar
terpenuhi—pangan, energi, transportasi—dengan harga terjangkau. Rakyat, di sisi
lain, menerima kenyataan hidup sederhana sebagai bagian dari perjuangan jangka
panjang.
Model ini
tentu tidak romantis. Inflasi tetap ada, keterbatasan tetap dirasakan. Namun
ada satu hal yang dijaga: martabat hidup rakyat tidak dibiarkan runtuh.
Harga-harga kebutuhan pokok dikendalikan, layanan publik tetap berjalan, dan
negara hadir sebagai pelindung, bukan sekadar regulator.
Pelajaran
bagi Dunia Berkembang
Apa yang
dilakukan Iran bukan tanpa risiko, juga bukan tanpa kritik. Namun dalam dunia
yang semakin tidak adil, di mana mata uang, utang, dan sistem keuangan global
sering dijadikan alat dominasi, pengalaman Iran memberi pelajaran penting: ketahanan
bangsa tidak selalu lahir dari keterbukaan total, tetapi dari kemampuan berdiri
di atas kaki sendiri.
Ketika mata
uang tidak lagi berharga, yang tersisa adalah pangan, energi, produksi, dan
solidaritas sosial. Negara yang mampu mengamankan empat hal itu akan tetap
bertahan, bahkan di bawah tekanan paling keras sekalipun.
Dalam
konteks global hari ini, pertanyaannya bukan lagi apakah sanksi efektif,
melainkan: siapa yang lebih siap menghadapi dunia tanpa belas kasihan
ekonomi global. Iran telah memilih jalannya—jalan yang mahal, keras, tetapi
berdaulat.
www.pt-afiralintaspersada.web.id