Nikmat Mana Lagi yang Engkau Dustakan, Wahai Manusia?
Setiap kali
Ramadhan tiba, ada satu kalimat yang seakan menggema lebih keras dari biasanya:
“Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia?” Sebuah penggalan
ayat dari Surah Ar-Rahman yang bukan sekadar repetisi retoris, tetapi teguran
yang lembut sekaligus tegas bagi hati yang sering lalai.
Ramadhan
bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum kebersamaan
yang pelan-pelan mengembalikan kita pada pusat kehidupan: keluarga, syukur, dan
kesadaran bahwa kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang
sederhana.
Di bulan
ini, rumah terasa berbeda. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dengan angka
atau logika ekonomi. Percakapan mengalir lebih panjang di ruang tamu. Tawa
kecil terdengar lebih sering. Bahkan alarm sahur yang berbunyi pukul tiga dini
hari pun terasa seperti panggilan istimewa, bukan gangguan. Kita bangun dengan
mata setengah terbuka, tetapi hati penuh kesiapan.
Meja sahur
mungkin sederhana. Tidak selalu ada hidangan mewah. Namun di sanalah letak
maknanya. Ayah sudah duduk lebih dulu, ibu memanggil dengan suara lembut,
anak-anak berjalan perlahan sambil menahan kantuk. Di meja itu, kita belajar
bahwa rasa cukup tidak selalu identik dengan kelimpahan materi. Ia lahir dari
kebersamaan.
Lapar dan
haus yang kita tahan sepanjang hari sejatinya adalah latihan kesadaran. Dalam
dunia yang serba instan, Ramadhan mengajarkan jeda. Kita belajar menunda. Kita
belajar sabar. Kita belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu
juga. Dan di sela-sela doa yang terucap pelan, ada harapan yang tumbuh: semoga
kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Momen
paling menggetarkan sering kali justru terjadi dalam hitungan detik. Menjelang
maghrib, dapur menjadi ruang cerita. Gorengan hangat, teh manis, atau sekadar
air putih tersaji di atas meja. Semua menunggu satu suara: adzan. Ketika
kumandang itu terdengar, suasana mendadak hening. Lalu seteguk air menyentuh
kerongkongan yang kering sejak fajar. Bahagia itu sederhana, tetapi terasa luar
biasa.
Di situlah
kalimat itu kembali relevan: Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan, wahai
manusia? Udara yang kita hirup tanpa membayar. Waktu yang terus berjalan
tanpa bisa kita beli kembali. Keluarga yang masih berkumpul hari ini, padahal
belum tentu esok tetap lengkap.
Sayangnya,
di era digital, kesadaran seperti ini sering tergerus. Kita sibuk menggulir
layar, mengejar tren, angka, dan validasi. Ukuran kebahagiaan bergeser menjadi
jumlah pengikut, tayangan, atau capaian materi. Padahal nikmat terbesar sering
kali hadir tanpa notifikasi. Ia sunyi, tetapi nyata.
Bangun pagi
dalam keadaan sehat adalah nikmat. Masih bisa bernapas lega adalah nikmat.
Memiliki keluarga yang menunggu kita berbuka adalah nikmat. Semua itu gratis,
tetapi sering kali tidak terasa karena terlalu biasa.
Ramadhan
datang untuk membongkar ilusi tersebut. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan bukan
soal kemewahan, melainkan kemampuan untuk bersyukur. Ia menegaskan bahwa hidup
bukan semata kompetisi, melainkan perjalanan spiritual untuk mengenali Pemberi
Nikmat.
Kalimat “Nikmat
mana lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia?” bukanlah pertanyaan yang
menuduh, melainkan ajakan untuk merenung. Seberapa sering kita mengeluh
dibandingkan bersyukur? Seberapa sering kita merasa kurang padahal yang kita
miliki sudah lebih dari cukup?
Di tengah
tantangan ekonomi, ketidakpastian global, dan tekanan sosial, Ramadhan
mengajarkan satu fondasi yang kokoh: rasa syukur. Dari syukur lahir ketenangan.
Dari ketenangan lahir kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan lahir kemampuan
untuk melihat hidup dengan lebih jernih.
Bulan ini
bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang pemulihan. Pemulihan relasi
dengan keluarga. Pemulihan relasi dengan sesama. Dan yang paling penting,
pemulihan relasi dengan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Maka ketika
kita kembali duduk di meja sahur atau berbuka, mungkin yang perlu kita lakukan
bukan hanya makan dan minum, tetapi juga bertanya pada diri sendiri: sudahkah
kita benar-benar menyadari nikmat yang ada?
Sebab pada
akhirnya, Ramadhan akan pergi. Yang tersisa adalah apakah kita pulang sebagai
manusia yang lebih bersyukur, atau tetap menjadi manusia yang mudah mendustakan
nikmat.
Dan
pertanyaan itu akan terus bergema, tidak hanya di bulan suci, tetapi sepanjang
hidup kita:
Nikmat mana
lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar