Sabtu, 21 Februari 2026

 

Nikmat Mana Lagi yang Engkau Dustakan, Wahai Manusia?

Setiap kali Ramadhan tiba, ada satu kalimat yang seakan menggema lebih keras dari biasanya: “Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia?” Sebuah penggalan ayat dari Surah Ar-Rahman yang bukan sekadar repetisi retoris, tetapi teguran yang lembut sekaligus tegas bagi hati yang sering lalai.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum kebersamaan yang pelan-pelan mengembalikan kita pada pusat kehidupan: keluarga, syukur, dan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang sederhana.

Di bulan ini, rumah terasa berbeda. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dengan angka atau logika ekonomi. Percakapan mengalir lebih panjang di ruang tamu. Tawa kecil terdengar lebih sering. Bahkan alarm sahur yang berbunyi pukul tiga dini hari pun terasa seperti panggilan istimewa, bukan gangguan. Kita bangun dengan mata setengah terbuka, tetapi hati penuh kesiapan.

Meja sahur mungkin sederhana. Tidak selalu ada hidangan mewah. Namun di sanalah letak maknanya. Ayah sudah duduk lebih dulu, ibu memanggil dengan suara lembut, anak-anak berjalan perlahan sambil menahan kantuk. Di meja itu, kita belajar bahwa rasa cukup tidak selalu identik dengan kelimpahan materi. Ia lahir dari kebersamaan.

Lapar dan haus yang kita tahan sepanjang hari sejatinya adalah latihan kesadaran. Dalam dunia yang serba instan, Ramadhan mengajarkan jeda. Kita belajar menunda. Kita belajar sabar. Kita belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Dan di sela-sela doa yang terucap pelan, ada harapan yang tumbuh: semoga kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Momen paling menggetarkan sering kali justru terjadi dalam hitungan detik. Menjelang maghrib, dapur menjadi ruang cerita. Gorengan hangat, teh manis, atau sekadar air putih tersaji di atas meja. Semua menunggu satu suara: adzan. Ketika kumandang itu terdengar, suasana mendadak hening. Lalu seteguk air menyentuh kerongkongan yang kering sejak fajar. Bahagia itu sederhana, tetapi terasa luar biasa.

Di situlah kalimat itu kembali relevan: Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia? Udara yang kita hirup tanpa membayar. Waktu yang terus berjalan tanpa bisa kita beli kembali. Keluarga yang masih berkumpul hari ini, padahal belum tentu esok tetap lengkap.

Sayangnya, di era digital, kesadaran seperti ini sering tergerus. Kita sibuk menggulir layar, mengejar tren, angka, dan validasi. Ukuran kebahagiaan bergeser menjadi jumlah pengikut, tayangan, atau capaian materi. Padahal nikmat terbesar sering kali hadir tanpa notifikasi. Ia sunyi, tetapi nyata.

Bangun pagi dalam keadaan sehat adalah nikmat. Masih bisa bernapas lega adalah nikmat. Memiliki keluarga yang menunggu kita berbuka adalah nikmat. Semua itu gratis, tetapi sering kali tidak terasa karena terlalu biasa.

Ramadhan datang untuk membongkar ilusi tersebut. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan bukan soal kemewahan, melainkan kemampuan untuk bersyukur. Ia menegaskan bahwa hidup bukan semata kompetisi, melainkan perjalanan spiritual untuk mengenali Pemberi Nikmat.

Kalimat “Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia?” bukanlah pertanyaan yang menuduh, melainkan ajakan untuk merenung. Seberapa sering kita mengeluh dibandingkan bersyukur? Seberapa sering kita merasa kurang padahal yang kita miliki sudah lebih dari cukup?

Di tengah tantangan ekonomi, ketidakpastian global, dan tekanan sosial, Ramadhan mengajarkan satu fondasi yang kokoh: rasa syukur. Dari syukur lahir ketenangan. Dari ketenangan lahir kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan lahir kemampuan untuk melihat hidup dengan lebih jernih.

Bulan ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang pemulihan. Pemulihan relasi dengan keluarga. Pemulihan relasi dengan sesama. Dan yang paling penting, pemulihan relasi dengan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maka ketika kita kembali duduk di meja sahur atau berbuka, mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya makan dan minum, tetapi juga bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar menyadari nikmat yang ada?

Sebab pada akhirnya, Ramadhan akan pergi. Yang tersisa adalah apakah kita pulang sebagai manusia yang lebih bersyukur, atau tetap menjadi manusia yang mudah mendustakan nikmat.

Dan pertanyaan itu akan terus bergema, tidak hanya di bulan suci, tetapi sepanjang hidup kita:

Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan, wahai manusia?




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar