Bahagia Itu Bukan Soal Memiliki, Tapi Soal Selesai: Sebuah Perjalanan Sunyi Menuju Ridho Allah
Banyak orang mengira bahagia adalah tentang memiliki: harta, pasangan ideal, jabatan tinggi, pencapaian gemilang, dan hidup tanpa masalah. Namun semakin dikejar, semakin terasa kosong. Sampai akhirnya kita sadar—bahagia bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang sejauh mana kita telah selesai dengan diri sendiri.
Selesai dengan diri sendiri bukan berarti berhenti bermimpi. Bukan pula berarti kehilangan ambisi. Tetapi ini adalah fase ketika seseorang telah mengenal dirinya dengan benar: memahami siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, ke mana langkahnya akan menuju, dan mengapa ia tetap mampu tersenyum di tengah senang maupun susah.
Mengenal Diri: Titik Awal Ketenangan
Ketika seseorang benar-benar mengenal dirinya, ia tidak lagi sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia memahami kelebihan dan kekurangannya, menerima masa lalunya, serta berdamai dengan takdir yang sedang dijalaninya.
Di titik ini, hidup tidak lagi terasa sebagai perlombaan. Ia menjadi perjalanan penuh makna.
Seseorang yang mengenal dirinya akan lebih mudah:
Menerima keadaan
Menghargai proses
Bersyukur atas hal kecil
Bersabar dalam ujian
Karena ia tahu, setiap peristiwa hadir dengan tujuan.
Bahagia dalam Hubungan: Menerima dan Menghargai
Fase kedewasaan spiritual terlihat jelas saat seseorang mampu menerima dan menghargai pasangannya, bukan menuntut kesempurnaan.
Ia sadar bahwa pasangan bukan diciptakan untuk memenuhi seluruh ekspektasi, melainkan untuk saling melengkapi, menenangkan, dan bertumbuh bersama.
Cinta tidak lagi diukur dari seberapa besar rasa memiliki, tetapi dari seberapa tulus memberi ruang, memahami, dan memaafkan.
Tujuan Hidup yang Menyatukan Segalanya
Pada puncaknya, kebahagiaan sejati bermuara pada satu tujuan: menggapai ridho Allah.
Saat tujuan hidup hanya satu, maka:
Kegagalan tidak membuat hancur
Keberhasilan tidak melahirkan kesombongan
Ujian tidak mematikan harapan
Nikmat tidak menumbuhkan kelalaian
Karena yang dikejar bukan pengakuan manusia, melainkan keridhaan Sang Pencipta.
Mengendalikan Nafsu, Amarah, dan Hasrat
Bahagia bukan berarti bebas dari amarah, nafsu, dan keinginan. Semua itu tetap ada, karena kita manusia. Namun kebahagiaan hadir ketika semua itu dapat dikendalikan, bukan dibiarkan menguasai diri.
Saat gagal, ia tidak tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut.
Saat berhasil, ia tidak larut dalam kesenangan berlebihan.
Hatinya stabil. Jiwanya tenang. Langkahnya terarah.
Bahagia Itu Tenang
Pada akhirnya, bahagia bukan tentang tawa yang keras, melainkan ketenangan yang dalam. Sebuah rasa cukup. Sebuah damai yang membuat hati ringan, pikiran jernih, dan jiwa lapang.
Bahagia adalah ketika kita:
Berdamai dengan diri sendiri
Ikhlas dengan ketetapan-Nya
Tulus dalam mencintai
Teguh dalam tujuan.
Karena sejatinya, bahagia itu ketika kita telah selesai dengan diri kita sendiri, dan hanya sibuk berjalan menuju ridho Allah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar