Sabtu, 07 Februari 2026

 


48 Jam yang Membuka Topeng: Ketika Kapal Induk Amerika Tak Lagi Menakutkan Iran

Selama dua hari—48 jam yang sunyi namun bising oleh narasi—dunia menyaksikan sebuah pertunjukan geopolitik yang terasa janggal. Amerika Serikat mengerahkan kapal induk ke kawasan Timur Tengah, seolah hendak mengirim pesan keras kepada Iran. Namun yang terjadi justru sebaliknya: dunia melihat gertak sambal yang kehilangan daya gentarnya.

Iran tidak bergeming. Tidak ada kepanikan. Tidak ada eskalasi emosional. Yang ada justru ketenangan yang terasa menampar.

Sejarah mencatat, ini bukan kali pertama Amerika menggunakan simbol kekuatan militernya sebagai alat tekanan psikologis. Kapal induk, sanksi ekonomi, ancaman terbuka, hingga boikot internasional telah menjadi menu berulang—berganti presiden, berganti jargon, tetapi pola tetap sama. Bedanya, kali ini dunia sudah terlalu cerdas untuk menelan narasi mentah-mentah.

Iran, negara yang kerap distigmatisasi, telah terbiasa hidup di bawah tekanan. Boikot justru membentuk ketahanan. Ancaman justru menempa kemandirian. Dalam sunyi, Iran membangun daya tahannya—ekonomi, teknologi, dan politik. Negara ini berdiri di atas kekayaan minyak dan sumber daya alam yang membuatnya bukan sekadar pemain regional, melainkan aktor strategis global.

Isu nuklir, terorisme, dan stabilitas kawasan selalu menjadi “lips service” yang diulang-ulang. Narasi itu dipoles rapi untuk konsumsi publik internasional, seakan menjadi pembenaran moral bagi intervensi dan tekanan. Namun publik dunia mulai bertanya: jika benar demi keamanan global, mengapa standar yang digunakan selalu timpang?

Mengapa negara-negara lain dengan senjata nuklir tidak diperlakukan serupa? Mengapa demokrasi dan HAM menjadi slogan selektif, tajam ke lawan, tumpul ke sekutu?

Dalam 48 jam itu, justru Amerika yang terlihat gelisah. Bukan karena Iran menyerang, tetapi karena simbol kekuatan lama tak lagi otomatis berarti dominasi. Dunia multipolar telah lahir. Ketakutan tidak lagi bisa diproduksi hanya dengan baja dan mesin perang.

Iran memahami satu hal yang sering dilupakan kekuatan besar: ketahanan sebuah bangsa tidak semata diukur dari senjata, melainkan dari kemampuan bertahan di tengah tekanan jangka panjang. Dari kesabaran strategis. Dari keyakinan bahwa waktu tidak selalu berpihak pada yang paling keras berteriak.

Kapal induk itu akhirnya menjadi simbol lain: bukan keperkasaan, melainkan kegamangan. Dunia sedang berubah, dan 48 jam itu menjadi pengingat pahit bahwa era ketakutan sepihak perlahan memasuki senjakalanya.

Sejarah mungkin akan mencatatnya bukan sebagai awal perang, melainkan sebagai momen ketika dunia sadar—bahwa gertakan tidak selalu berujung pada kepatuhan, dan kekuatan sejati tidak selalu berisik.


 (1) Saya tidak akan berhenti memperkaya senjata nuklir.

(2) Saya tidak akan berhenti mendukung siapa pun yang ingin melawan Israel.

(3)  Saya tidak akan berhenti mengembangkan senjata balistik yang membuat Anda  takut. 

Sayid  Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi  Republik  Islam  Iran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar