Rabu, 04 Juni 2025

 

Keseimbangan antara Yakin dan Berserah, 
Usaha Manusia, Hasil Allah

Dalam menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian, banyak orang merasa gelisah, cemas, dan lelah. Sebagian karena terlalu fokus mengejar dunia, sebagian lagi karena lupa bahwa ada kekuatan tak terlihat yang mengatur segala urusan: Allah SWT, Sang Pemilik Rezeki.

"Aku Yakin Rezekiku Tak Akan Dimakan Orang Lain, Karena Itu Aku Tenang"

Inilah salah satu jawaban agung dari Imam Ja’far Ash-Shadiq saat ditanya, “Wahai Imam, apa yang membuatmu begitu tenang dalam hidup?”

Beliau menjawab:

"Aku yakin rezekiku tidak akan dimakan oleh orang lain, karena itu aku tenang."

Kalimat ini bukan hanya jawaban, tetapi sebuah fondasi tauhid dalam memahami hakikat rezeki. Bahwa apapun yang menjadi bagian kita, tidak akan tertukar, tidak akan terlambat, dan tidak akan salah alamat.

Ketenangan yang lahir dari keyakinan semacam ini akan memerdekakan manusia dari rasa iri, tamak, dan kegelisahan duniawi.

4 Pedoman Hidup Imam Ja'far Ash-Shadiq

Selain kalimat di atas, Imam Ja’far Ash-Shadiq juga mengajarkan empat prinsip hidup yang menjadikan seseorang tenang dan kokoh dalam menghadapi kehidupan:

  1. Aku Yakin Rezekiku Tak Akan Dimakan Orang Lain, Karena Itu Aku Tenang.
    → Keyakinan ini menghapuskan kegelisahan tentang urusan dunia dan menjauhkan dari sifat serakah.

  2. Aku Yakin Tugas dan Tanggung Jawabku Tidak Akan Diambil Orang Lain, Maka Aku Sibuk Menjalankannya.
    → Ini melatih fokus dan amanah. Bahwa setiap orang memiliki takdir dan tugas masing-masing dalam hidup. Maka tidak perlu iri terhadap takdir orang lain.

  3. Aku Yakin Allah Melihatku, Maka Aku Malu Berbuat Dosa.
    → Kesadaran akan pengawasan Allah menjadikan seseorang menjaga sikap, ucapan, dan perbuatan meskipun tak ada manusia yang melihat.

  4. Aku Yakin Kematian Menantiku, Maka Aku Menyiapkan Bekal.
    → Ini mengajarkan kesadaran akhirat. Bahwa dunia ini sementara, dan tujuan sejati adalah kehidupan abadi yang menanti.

Manusia Berusaha, Allah Menentukan Hasil

Berangkat dari ajaran itu, kita memahami bahwa usaha adalah wilayah kita, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Maka ketika rencana gagal atau hasil tak sesuai harapan, kita tidak patah semangat, karena kita hanya diminta berjuang, bukan menentukan takdir.

Berapa banyak proposal kerja sama yang kita ajukan ditolak? Berapa banyak usaha yang tidak membuahkan hasil? Semua itu bukan karena Allah menolak doa kita, melainkan karena Allah sedang menyusun sesuatu yang lebih baik, atau mungkin melindungi kita dari sesuatu yang tidak kita pahami.

Keseimbangan: Ikhtiar Kuat, Tawakal Total

Hidup yang tenang lahir dari dua hal: ikhtiar yang maksimal dan tawakal yang total. Ibarat dua sayap burung, jika salah satunya patah, maka burung tak akan bisa terbang.

Kita bekerja, merancang, berdoa, dan berjuang. Tapi setelah semua itu, kita letakkan hati di hadapan Allah dengan berkata:
"Ya Allah, Engkau lebih tahu apa yang terbaik."

Dengan cara ini, hati menjadi lapang. Tidak mudah iri pada rezeki orang lain. Tidak mudah kecewa pada hasil. Karena kita yakin, semua sudah diatur, dan rezeki tak pernah tertukar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar