Hancurnya Sebuah Kesombongan
(Firaun Sebagai Simbol Kejahatan Sepanjang Zaman)
Kesombongan adalah penyakit hati yang tak hanya menghancurkan individu, tetapi juga peradaban. Dalam sejarah, simbol paling nyata dari kesombongan ekstrem yang berujung pada kehancuran adalah sosok Firaun, penguasa Mesir kuno yang disebut dalam berbagai kitab suci sebagai tokoh yang menolak kebenaran, berlaku zalim, dan menyombongkan diri seolah-olah ia adalah Tuhan.
Firaun bukan hanya sekadar nama seorang raja. Ia telah menjadi simbol universal dari kekuasaan absolut yang digunakan untuk menindas, menguasai, dan mengeksploitasi. Bahkan dalam banyak literatur dan diskursus keagamaan, Firaun melambangkan karakter abadi dari rezim yang membangkang terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
"Sesungguhnya Firaun telah berlaku sombong di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka..." (QS. Al-Qashash: 4)
Simbol yang Menjelma di Tiap Zaman
Simbol Firaun tak pernah benar-benar hilang. Ia menjelma dalam bentuk-bentuk baru di setiap zaman. Kadang ia muncul sebagai tiran militer, kadang sebagai penguasa ekonomi yang serakah, bahkan bisa berupa sistem politik atau ideologi yang menjajah bangsa lain. Mereka datang dengan wajah modern, berdalih atas nama demokrasi, kemajuan, atau keamanan global—namun sesungguhnya memiliki watak yang sama: angkuh, manipulatif, dan zalim.
Aneksasi atas sebuah kawasan, perampasan sumber daya alam, penjajahan secara kultural maupun ekonomi adalah bentuk-bentuk baru dari tirani Firaun modern. Ia tidak selalu memakai mahkota emas, tapi bisa muncul lewat sistem yang menindas kemanusiaan atas nama kebebasan semu.
Kesombongan: Akar dari Kejatuhan
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan niscaya akan runtuh. Sebagaimana Firaun yang akhirnya tenggelam di Laut Merah—bukan karena musuhnya lebih kuat, tapi karena ia menolak untuk tunduk kepada kebenaran dan bertobat. Kesombongan membuatnya buta terhadap tanda-tanda kehancuran yang sudah sangat jelas di depan matanya.
Kesombongan bukan hanya penyakit penguasa, tapi juga bisa menjangkiti siapa saja: individu, kelompok, atau bangsa. Ketika manusia menganggap dirinya tak butuh Tuhan, menganggap hukum bisa dibeli, dan menginjak-injak martabat orang lain demi kekuasaan atau kekayaan, maka sejatinya ia sedang mengikuti jejak Firaun.
Menjaga Diri dari Kesombongan, Mewaspadai Simbol Firaun
Masyarakat yang sadar dan beriman harus mampu membaca tanda-tanda zaman. Ketika simbol-simbol Firaun muncul—baik dalam bentuk kekuasaan represif, sistem ekonomi eksploitatif, atau budaya yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan—maka sudah saatnya untuk bersikap. Tidak diam, tidak tunduk, dan tidak takut melawan ketidakadilan.
“Dan jangan kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar