Senin, 05 Mei 2025

 


Turbulensi Industri Pertelevisian di Indonesia: Ketika Primetime Tak Lagi Sakral

Industri pertelevisian di Indonesia tengah menghadapi turbulensi hebat. Perubahan drastis dalam perilaku konsumsi media telah mengguncang fondasi lama yang dulu begitu kokoh: primetime — waktu tayang emas yang selama ini menjadi andalan utama para stasiun televisi dalam menarik pemirsa dan iklan.

Namun kini, primetime tak lagi sakral. Masyarakat, terutama generasi muda, tak lagi duduk manis menunggu pukul 7 malam untuk menonton sinetron, berita utama, atau tayangan hiburan. Revolusi digital telah mengubah semuanya.

Internet Masuk Desa, Monopoli Tayang Terkikis

Program pemerintah seperti “Internet Masuk Desa” menjadi tonggak penting dalam penyebaran akses digital secara merata. Ketika masyarakat desa mulai menikmati koneksi internet yang stabil, mereka pun perlahan-lahan bergeser dari tayangan televisi konvensional.
Kini, siapa pun — dari kota hingga pelosok — bisa menonton apa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Monopoli jam tayang oleh televisi perlahan menghilang. Tidak ada lagi kekuatan tunggal yang menentukan kapan penonton harus menyaksikan tayangan tertentu. Waktu tayang tak lagi dipatok oleh stasiun TV, melainkan oleh preferensi individu masing-masing.

Perilaku Penonton yang Sepenuhnya Berubah

Penonton hari ini tidak lagi mengenal waktu tayang. Mereka bukan hanya pasif, tetapi aktif memilih apa yang ingin ditonton. Pilihan mereka jatuh pada platform seperti Netflix, YouTube, TikTok, dan Instagram Reels yang menawarkan kebebasan penuh, kontrol waktu, dan variasi konten.

Sementara TV masih terpaku pada pola siaran linear dan durasi panjang, media digital justru berkembang ke arah konten pendek (short-form), ringkas, dan mudah dikonsumsi. Algoritma menentukan apa yang ditonton, bukan jadwal.

Imbasnya bagi Industri Televisi

Stasiun televisi kini menghadapi tekanan dari dua sisi:

  • Kehilangan pemirsa tradisional yang semakin digital-savvy.

  • Persaingan iklan digital yang lebih terukur dan fleksibel dibanding iklan konvensional.

Banyak rumah produksi mulai mengalihkan sumber daya untuk membuat konten digital. Sementara itu, televisi yang tidak beradaptasi hanya menjadi ‘latar suara’ di ruang tamu, bukan lagi pusat perhatian.

Jalan Menuju Adaptasi

Beberapa stasiun televisi mulai mencoba bertransformasi:

  • Menyediakan tayangan on-demand di platform mereka sendiri.

  • Berkolaborasi dengan YouTuber atau TikToker untuk menjangkau segmen muda.

  • Memproduksi konten singkat dan mendistribusikannya lintas platform.

Namun, transformasi ini menuntut kecepatan, keberanian, dan kesiapan mental untuk meninggalkan cara lama.

Kesimpulan

Era ketika televisi mendikte ritme konsumsi hiburan sudah berlalu. Kini, penontonlah yang berkuasa. Turbulensi ini bukan akhir, tetapi panggilan untuk berinovasi. Siapa yang cepat beradaptasi, dia yang akan bertahan.

“Konten tetap raja, tapi distribusi kini adalah takdirnya.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar