Rabu, 20 Agustus 2025

 Keberlimpahan dan Kesuksesan Sejati dalam Perspektif Islam: Meraih Al-Falāh

Dalam dunia modern, keberhasilan sering diukur dari harta, jabatan, atau popularitas. Namun, dalam literasi Islam, ukuran kesuksesan yang hakiki tidak berhenti pada materi, melainkan mengarah pada sesuatu yang lebih dalam, yaitu al-falāh — kebahagiaan, keberlimpahan, dan keselamatan di dunia sekaligus akhirat.

Kesuksesan dalam Pandangan Duniawi

Banyak orang menilai bahwa semakin tinggi jabatan atau semakin banyak harta, maka semakin sukseslah ia. Tidak dapat dipungkiri, Islam pun mengakui bahwa harta dan kekuasaan bisa menjadi sarana kebaikan. Namun, ketika materi dijadikan tujuan utama, ia justru bisa menjadi penghalang kebahagiaan batin. Firman Allah:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan...”
(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah sementara, sehingga keberhasilan duniawi tidak boleh menjadi tujuan akhir.

Al-Falāh: Konsep Kesuksesan Sejati

Dalam Al-Qur’an, kata al-falāh sering dikaitkan dengan orang-orang beriman. Al-falāh berarti kemenangan, keberlimpahan, dan kebahagiaan yang menyeluruh, mencakup:

  1. Keberkahan Hidup di Dunia
    • Rezeki yang halal, berkecukupan, dan menenangkan hati.
    • Keluarga yang sakinah, penuh cinta, dan saling mendukung.
    • Jiwa yang damai, jauh dari iri, dengki, dan kesombongan.
  2. Keselamatan di Akhirat
    • Mendapat ridha Allah dan terhindar dari azab.
    • Memperoleh surga sebagai tempat kembali yang kekal.
    • Kesuksesan yang tidak bisa dibeli dengan harta dunia.

Allah berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Mu’minun: 1)

Ayat ini menjadi kunci bahwa al-falāh dimulai dari keimanan yang murni.

 Jalan Menuju Al-Falāh

Islam memberikan panduan jelas bagaimana membebaskan hambatan batin untuk meraih kesuksesan sejati:

  1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
    Melepaskan diri dari sifat sombong, iri, tamak, dan cinta dunia berlebihan. Jiwa yang bersih akan lebih mudah menerima cahaya kebenaran.
  2. Syukur dan Qana’ah
    Mensyukuri nikmat sekecil apa pun dan merasa cukup dengan rezeki halal yang diberikan Allah. Syukur membuka pintu keberlimpahan.
  3. Ikhlas dalam Amal
    Semua aktivitas — bekerja, beribadah, maupun berinteraksi — diniatkan semata-mata karena Allah. Ikhlas melahirkan ketenangan, sekalipun hasil duniawi belum terlihat.
  4. Tawakal
    Berusaha maksimal lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan tawakal, hati terbebas dari kegelisahan dan kekecewaan.
  5. Doa dan Dzikir
    Hubungan yang kuat dengan Allah menumbuhkan energi batin positif, sehingga seorang Muslim merasa cukup dan kuat menghadapi ujian hidup.

Keberlimpahan sejati dalam Islam bukan sekadar memiliki banyak harta atau popularitas, melainkan meraih al-falāh: kebahagiaan menyeluruh dunia dan akhirat. Jalan menuju al-falāh ditempuh melalui penyucian jiwa, syukur, ikhlas, tawakal, serta kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, kesuksesan tidak lagi diukur dari simbol luar, melainkan dari kedamaian batin, keberkahan hidup, dan keselamatan akhirat.


www.pt-afiralintaspersada.web.id



Tidak ada komentar:

Posting Komentar