Keberlimpahan dan Kesuksesan Sejati dalam Perspektif Islam: Meraih Al-Falāh
Dalam dunia modern, keberhasilan sering diukur
dari harta, jabatan, atau popularitas. Namun, dalam literasi Islam, ukuran
kesuksesan yang hakiki tidak berhenti pada materi, melainkan mengarah pada
sesuatu yang lebih dalam, yaitu al-falāh — kebahagiaan, keberlimpahan,
dan keselamatan di dunia sekaligus akhirat.
Kesuksesan
dalam Pandangan Duniawi
Banyak orang menilai bahwa semakin tinggi
jabatan atau semakin banyak harta, maka semakin sukseslah ia. Tidak dapat
dipungkiri, Islam pun mengakui bahwa harta dan kekuasaan bisa menjadi sarana
kebaikan. Namun, ketika materi dijadikan tujuan utama, ia justru bisa menjadi
penghalang kebahagiaan batin. Firman Allah:
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah
sementara, sehingga keberhasilan duniawi tidak boleh menjadi tujuan akhir.
Al-Falāh: Konsep Kesuksesan Sejati
Dalam Al-Qur’an, kata al-falāh sering
dikaitkan dengan orang-orang beriman. Al-falāh berarti kemenangan,
keberlimpahan, dan kebahagiaan yang menyeluruh, mencakup:
- Keberkahan Hidup di Dunia
- Rezeki yang halal, berkecukupan, dan menenangkan hati.
- Keluarga yang sakinah, penuh cinta, dan saling mendukung.
- Jiwa yang damai, jauh dari iri, dengki, dan kesombongan.
- Keselamatan di Akhirat
- Mendapat ridha Allah dan terhindar dari azab.
- Memperoleh surga sebagai tempat kembali yang kekal.
- Kesuksesan yang tidak bisa dibeli dengan harta dunia.
Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Mu’minun: 1)
Ayat ini menjadi kunci bahwa al-falāh
dimulai dari keimanan yang murni.
Jalan Menuju Al-Falāh
Islam memberikan panduan jelas bagaimana
membebaskan hambatan batin untuk meraih kesuksesan sejati:
- Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)Melepaskan diri dari sifat sombong, iri, tamak, dan cinta dunia berlebihan. Jiwa yang bersih akan lebih mudah menerima cahaya kebenaran.
- Syukur dan Qana’ahMensyukuri nikmat sekecil apa pun dan merasa cukup dengan rezeki halal yang diberikan Allah. Syukur membuka pintu keberlimpahan.
- Ikhlas dalam AmalSemua aktivitas — bekerja, beribadah, maupun berinteraksi — diniatkan semata-mata karena Allah. Ikhlas melahirkan ketenangan, sekalipun hasil duniawi belum terlihat.
- TawakalBerusaha maksimal lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan tawakal, hati terbebas dari kegelisahan dan kekecewaan.
- Doa dan DzikirHubungan yang kuat dengan Allah menumbuhkan energi batin positif, sehingga seorang Muslim merasa cukup dan kuat menghadapi ujian hidup.
Keberlimpahan sejati dalam Islam bukan sekadar memiliki banyak harta atau popularitas, melainkan meraih al-falāh: kebahagiaan menyeluruh dunia dan akhirat. Jalan menuju al-falāh ditempuh melalui penyucian jiwa, syukur, ikhlas, tawakal, serta kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, kesuksesan tidak lagi diukur dari simbol luar, melainkan dari kedamaian batin, keberkahan hidup, dan keselamatan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar