Destruction dan Disruption Birokrat: Jalan Terjal Menuju Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 adalah sebuah mimpi kolektif: menjadi bangsa maju, sejahtera, dan berdaulat tepat di usia satu abad kemerdekaan. Namun, mimpi itu bisa saja tinggal slogan kosong bila salah satu penghambat terbesar pembangunan tidak dibenahi: birokrasi kita yang lamban, feodal, dan koruptif.
Realitas menunjukkan, birokrasi
yang seharusnya menjadi mesin penggerak pembangunan, justru sering menjadi rem
yang menghambat laju bangsa. Prosedur berbelit, kepentingan pribadi lebih besar
daripada pelayanan publik, dan resistensi terhadap inovasi membuat birokrasi
kita berjalan lamban di tengah dunia yang berlari cepat.
Untuk itu, Indonesia membutuhkan langkah radikal: destruction
dan disruption birokrat.
Menghancurkan Sistem Lama
Destruction berarti berani
membersihkan akar masalah. Budaya “asal bapak senang”, praktik suap, hingga
mentalitas feodal yang menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri harus
dihentikan. Tanpa keberanian menghancurkan pola lama ini, setiap wacana reformasi
hanya akan berakhir sebagai kosmetik politik.
Membangun Sistem Baru
Disruption adalah membangun
birokrasi baru yang adaptif, transparan, dan berbasis teknologi. Layanan publik
tidak boleh lagi menjadi ladang pungli, melainkan harus sepenuhnya digital,
cepat, dan dapat diawasi masyarakat. Struktur birokrasi yang gemuk harus
dipangkas, diganti dengan tata kelola yang ramping dan efektif.
Lebih dari itu, SDM birokrasi
harus diisi oleh orang-orang dengan kompetensi, integritas, dan kemampuan
mengelola teknologi. Tanpa revolusi sumber daya manusia, digitalisasi hanya
akan menjadi formalitas tanpa substansi.
Arah Reformasi Radikal yang
harus ditempuh antara lain :
· Digital Governance: Semua layanan publik
terintegrasi dalam sistem digital yang transparan, tanpa celah pungli yang
hingga saat ini masih terjadi.
· Revolusi SDM Birokrasi: Mengutamakan
meritokrasi, integritas, dan kompetensi teknologi.
· Pemangkasan Struktur: Mengurangi lembaga yang
tumpang tindih, memperbanyak fungsi eksekusi, bukan administrasi.
· Akuntabilitas Publik: Masyarakat diberi ruang
mengawasi birokrat melalui sistem keterbukaan informasi.
· Kepemimpinan Transformasional: Pemimpin
birokrasi harus visioner, mampu memotivasi, dan menjadi teladan dalam
integritas.
Contoh Negara yang Melakukan Perubahan Radikal Birokrasi
Singapura
Perubahan Radikal: Pada 1960-an, Singapura adalah
negara kecil dengan keterbatasan sumber daya. Lee Kuan Yew melakukan
destruction terhadap budaya birokrasi kolonial yang lamban, lalu membangun
sistem meritokrasi ketat.
Hasil: Birokrat dipilih berdasarkan kompetensi, gaji
tinggi diberikan untuk mencegah korupsi, dan seluruh layanan publik dipacu
cepat. Kini Singapura menjadi salah satu pusat bisnis dan pemerintahan paling
efisien di dunia.
Rwanda
Perubahan Radikal: Pasca-genosida 1994, Rwanda nyaris
hancur. Presiden Paul Kagame melakukan disruption dengan membangun birokrasi
berbasis teknologi dan nol toleransi korupsi.
Hasil: Rwanda kini dikenal sebagai salah satu negara
dengan tata kelola pemerintahan terbaik di Afrika, layanan publik serba
digital, dan iklim investasi yang ramah.
Tiongkok (China)
Perubahan Radikal: Sejak reformasi ekonomi Deng
Xiaoping (1978), Tiongkok melakukan destruction terhadap ekonomi terpusat ala
Mao, lalu beralih ke sistem pasar terkontrol. Reformasi birokrasi dijalankan
paralel dengan industrialisasi masif.
Hasil: Tiongkok bertransformasi dari negara miskin
menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dalam waktu empat dekade.
Korea Selatan
Perubahan Radikal: Pada 1960-an, Korea Selatan masih
negara agraris dengan pendapatan per kapita rendah. Pemerintah melakukan
disruption birokrasi melalui industrialisasi berbasis teknologi dan kerja sama
erat antara pemerintah dan swasta (chaebol).
Hasil: Dalam 50 tahun, Korea Selatan menjadi negara
maju dengan industri teknologi global (Samsung, Hyundai, LG).
Estonia
Perubahan Radikal: Setelah lepas dari Uni Soviet
(1991), Estonia melakukan destruction terhadap birokrasi manual ala Soviet,
lalu membangun pemerintahan digital sejak awal.
Hasil: Estonia kini dikenal sebagai “digital nation”,
semua layanan publik (pajak, kesehatan, pemilu) bisa diakses secara online
dengan transparansi tinggi.
Menuju Indonesia Emas
Indonesia Emas 2045 tidak akan
lahir dari birokrasi yang nyaman dengan status quo. Ia hanya bisa lahir jika
ada keberanian untuk menghancurkan sistem lama dan membangun sistem baru.
Destruction untuk membebaskan dari belenggu, disruption untuk melahirkan
inovasi.
Bangsa ini membutuhkan birokrasi
yang menjadi motor kemajuan, bukan penghambat. Bila tidak, Indonesia hanya akan
merayakan 100 tahun kemerdekaan dengan janji-janji yang tak pernah ditepati.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar