Pengalaman Iran menarik untuk dikaji karena negara tersebut mengembangkan kebijakan penguatan kemampuan teknologi domestik dalam situasi yang ditandai oleh sanksi internasional, keterbatasan akses terhadap sejumlah teknologi, dan tekanan geopolitik.
Salah satu instrumen yang dikembangkan adalah perusahaan berbasis pengetahuan, yang dikenal sebagai knowledge-based companies. Perusahaan ini memperoleh pengakuan berdasarkan kriteria tertentu mengenai penguasaan teknologi, kegiatan penelitian dan pengembangan, serta karakteristik produk atau layanan yang dihasilkan.
Pendekatan Iran berupaya memperkuat hubungan antara universitas, peneliti, perusahaan, investor, dan pemerintah. Tujuannya bukan hanya menghasilkan penelitian, melainkan juga mengomersialkan pengetahuan dan mengembangkan kemampuan produksi dalam negeri.
Bidang yang menjadi perhatian mencakup bioteknologi, farmasi, teknologi informasi, material, peralatan industri, dan berbagai sektor teknologi lainnya.Pengalaman ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal dapat mendorong suatu negara mencari alternatif terhadap ketergantungan teknologi.
Akan tetapi, tekanan saja tidak otomatis menghasilkan kemajuan. Hasilnya sangat bergantung pada kualitas pendidikan, kemampuan institusi, investasi riset, kepastian kebijakan, dan keberadaan pasar bagi teknologi yang dikembangkan.
Karena itu, pelajaran dari Iran bukanlah bahwa Indonesia harus meniru seluruh kebijakannya. Kondisi ekonomi, akses terhadap perdagangan internasional, struktur industri, dan posisi geopolitik kedua negara berbeda.
Pelajaran yang lebih relevan adalah pentingnya membangun kapasitas domestik secara sistematis. Karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja usia produktif yang banyak, perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah nusantara serta berbagai regulasi yang sudah ada agar bisa mendukung program kemandirian negara.
Hanya saja saat ini masih terus bergantung pada negara lain, sehingga hal ini harus segera dikurangi agar negara kita bisa menjadi mandiri sebagaimana Iran, karena keterdesakan di embargo secara ketat, mau tidak mau harus membangun industri dalam negerinya sendiri.
Kita memiliki segalanya, tinggal kemauan politik dari para petingginya untuk menjadi negara mandiri dengan tujuan mengedepankan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Sudah saatnya para pemimpin di negeri ini tidak terjebak dalam kepentingan sesaat yang menguntungkan segelintir orang, tetapi bagaimana mencari solusi agar bisa terlepas dari ketergantungan pihak asing.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar