TOWARD ETERNITY
Sebuah Pelajaran dari Kaum Nabi Luth AS
Pernahkah kita membayangkan, bagaimana rasanya ketika sebuah kaum yang dahulu hidup, bekerja, membangun peradaban, dan menikmati kehidupan dunia, akhirnya hanya menjadi bagian dari sejarah?
Kisah kaum Nabi Luth AS mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi.
Allah SWT mengutus Nabi Luth AS untuk mengingatkan kaumnya agar meninggalkan perbuatan keji dan kembali kepada jalan yang diridai-Nya. Namun, sebagian besar dari mereka menolak peringatan tersebut. Bahkan, mereka justru menantang dan mengancam Nabi Luth AS.
Mereka mungkin merasa kehidupan akan terus berjalan seperti biasa. Akan tetapi, manusia tidak pernah memiliki kendali mutlak atas masa depannya.
Ketika azab Allah datang, kekuatan dan kebanggaan mereka tidak mampu menyelamatkan mereka.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an, antara lain dalam Surah Hud ayat 77–83.
Dunia Hanyalah Persinggahan
Ada pelajaran mendalam yang bisa kita renungkan.
Hari ini, kita mungkin sedang sibuk membangun bisnis, mengejar karier, mengumpulkan kekayaan, membesarkan anak, atau merencanakan masa depan.
Semua itu tidak salah. Bahkan, bekerja dan berusaha dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Namun, terkadang kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan di dunia, sampai lupa mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Kita menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung waktu yang tersisa.
Kita merencanakan perjalanan bertahun-tahun ke depan, tetapi tidak pernah tahu apakah esok masih menjadi milik kita.
Kita ingin meninggalkan warisan berupa harta, jabatan, dan nama besar, tetapi sudahkah kita memikirkan warisan kebaikan yang akan tetap hidup setelah kita tiada?
Menuju Keabadian
Toward Eternity berarti menuju keabadian.
Dalam perspektif Islam, kematian bukanlah akhir dari seluruh perjalanan manusia. Kematian merupakan peralihan menuju kehidupan akhirat, tempat manusia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Karena itu, kisah kaum Nabi Luth AS bukan sekadar cerita tentang kehancuran sebuah kaum. Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan petunjuk Allah, harus menjaga akhlak, dan tidak boleh mengabaikan peringatan-Nya.
- Kita tidak perlu menunggu datangnya musibah untuk menyadari betapa berharganya kesempatan hidup.
- Kita tidak harus kehilangan seseorang untuk belajar mencintai.
- Kita tidak harus jatuh untuk belajar rendah hati.
- Dan kita tidak harus menghadapi kematian untuk mulai memperbaiki diri.
Selama napas masih berembus, pintu untuk bertobat dan memperbanyak amal kebaikan masih terbuka.
Pada akhirnya, setiap manusia akan meninggalkan dunia ini.
Harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan. Jabatan yang dibanggakan akan beralih kepada orang lain. Tubuh yang dahulu kuat akan kembali menjadi tanah.
Lalu, apa yang sesungguhnya kita bawa?
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim).
Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh dunia. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, menolong sesama, menyebarkan ilmu, dan meninggalkan kebaikan.
Sebab, ukuran keberhasilan hidup bukan hanya apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga apa yang berhasil kita berikan.
Kita semua sedang berjalan menuju keabadian. Pertanyaannya bukan apakah perjalanan itu akan berakhir, melainkan sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya?
Semoga Allah SWT membimbing langkah kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan sisa umur kita lebih bermakna daripada masa lalu kita.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar