Leadership Ala Tong Tji — 88 Tahun Bertahan Bukan Karena Menunggu, Tapi Karena Berani Eksekusi
Bayangkan Anda berusia 19 tahun. Kuliah belum selesai. Masa depan masih panjang. Teman-teman sebaya mungkin sedang menikmati dunia kampus dan mulai memikirkan cita-cita. Tetapi tiba-tiba kehidupan memaksa Anda berhenti, bukan karena Anda ingin drop out, bukan karena gagal, tetapi karena keadaan, Ayah meninggal dunia. Dan harus mengambil alih tanggung jawab keluarga. Inilah titik yang mengubah perjalanan hidup Tatang Budiono, sosok yang kemudian meneruskan perjalanan Tong Tji, sebuah nama yang telah bertahan selama puluhan tahun di industri teh Indonesia. Di usia yang sangat muda, pilihan hidupnya bukan lagi sekadar "Saya mau menjadi apa?" Tetapi berubah menjadi Apa yang harus saya lakukan agar usaha ini tetap hidup ?
Di sinilah saya melihat sebuah pelajaran leadership yang sangat menarik. Leadership tidak selalu lahir dari ruang kelas, terkadang lahir dari keadaan yang memaksa kita mengambil keputusan sebelum kita benar-benar siap.
Jangan Menunggu Siap untuk Mulai Bergerak. Banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi sering kali mereka menunggu semuanya sempurna : menunggu modal cukup, menunggu tim lengkap, menunggu strategi matang, menunggu teknologi tersedia, menunggu pasar siap. Padahal dalam dunia bisnis, kesempatan sering kali tidak datang ketika kita sudah siap, kesempatan datang ketika kita dipaksa untuk bergerak. Tatang Budiono berada dalam situasi seperti itu, ketika harus menggantikan ayahnya, ia tidak memiliki kemewahan untuk terlalu lama berada di ruang teori. Dia harus masuk ke lapangan, melihat, mencoba, berjualan, mencari pelanggan, mendengar pasar, dan mengambil keputusan.
Inilah yang disebut sebagai leadership berbasis eksekusi, bukan hanya banyak bicara tentang strategi, tTetapi turun langsung memastikan strategi itu terjadi.
Eksekusi Lebih Penting daripada Sekadar Ide Besar
Ada satu kebiasaan menarik dari entrepreneur yang mampu bertahan lama, mereka tidak terlalu lama jatuh cinta pada ide, mereka mengujinya : Apakah produk ini diterima, Apakah pelanggan menyukainya, Apakah harga ini masuk akal, Apakah kemasan ini menarik? Apakah pasar membutuhkan produk ini? Kalau belum berhasil, perbaiki, kalau berhasil, ulangi, dan kalau gagal, belajar. Konsep seperti inilah yang bisa kita lihat dari pola sampling, eksekusi dan gerilya pasar. Sampling adalah cara untuk mendapatkan data langsung dari konsumen. Daripada hanya duduk di kantor dan mengatakan, "Saya rasa konsumen akan suka. Lebih baik turun ke lapangan dan bertanya: Apakah konsumen benar-benar suka . Perbedaannya sangat besar, pertama adalah asumsi, kedua adalah pengalaman. Dan seorang pemimpin harus mampu mengubah asumsi menjadi pengalaman nyata.
Gerilya Itu Bukan Berarti Kecil. Kata gerilya sering dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan karena keterbatasan. Padahal dalam bisnis, gerilya bisa menjadi sebuah strategi.
Ketika kita belum memiliki sumber daya sebesar perusahaan besar, jangan memaksakan diri bermain dengan cara perusahaan besar, cari celah, dekati konsumen, bangun hubungan, coba berbagai pendekatan, masuk ke komunitas, dengarkan kebutuhan pasar, buat produk dikenal melalui pengalaman langsung. Inilah kekuatan bisnis yang dibangun dari bawah, bukan hanya mengandalkan iklan besar, tetapi menciptakan pengalaman konsumen dari satu orang ke orang berikutnya. Dan ketika pengalaman itu konsisten selama bertahun-tahun, sebuah brand tidak lagi sekadar menjual produk.
Dunia bisnis hari ini sudah berubah, orang tidak hanya membeli produk, mereka membeli pengalaman, kita bisa melihatnya dalam banyak industri, orang membeli kopi bukan hanya karena kopinya, orang datang ke restoran bukan hanya karena makanannya, orang membeli sebuah brand bukan hanya karena produknya.
Ada cerita, ada pengalaman, ada interaksi, ada nostalgia, ada rasa percaya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai experience economy. Dan menariknya, prinsip ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Banyak bisnis yang telah bertahan puluhan tahun sudah menerapkannya dalam bentuk yang berbeda.
Ketika konsumen mencoba sebuah produk, merasakan kualitasnya, mengenal brand-nya, kemudian kembali membeli, sebenarnya sedang terjadi sebuah pengalaman. Produk menciptakan transaksi, Tetapi pengalaman menciptakan hubungan. Dan hubunganlah yang membuat sebuah brand mampu bertahan jauh lebih lama.
Keterangan : Tong Tji Teh Kekinian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar