Pesta di Atas Luka Rakyat: Saat Korupsi Jadi Bisnis Keluarga Berjangka
Di negeri yang katanya subur dan makmur ini, ada dua dunia yang hidup berdampingan tapi tak pernah bersentuhan.
Dunia pertama: gemerlap. Mobil mewah melaju di jalanan berlubang, tas branded melenggang di rapat anggaran rakyat miskin, jam tangan seharga ratusan juta dipakai untuk menandatangani proyek fiktif. Para pejabat berdasi tersenyum di layar kaca, joget di TikTok, pamer liburan ke Eropa. Semua dari “hasil kerja keras”.
Dunia kedua: bertahan. Seorang ibu menghitung receh untuk beli beras, buruh harian menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang, anak sekolah jalan kaki 5 km karena ongkos angkot naik. Mereka yang disebut “rakyat” ini menonton pertunjukan dunia pertama dari kejauhan, lewat berita OTT KPK yang muncul seminggu sekali lalu hilang ditelan kasus baru.
Ketika Penjara Hanya Jadi “Cuti Panjang”
Hari ini korupsi bukan lagi kejahatan yang menakutkan. Ia sudah bermetamorfosis jadi model bisnis. Ada kalkulasinya. Ada manajemen risikonya.
1. Modal: Jabatan dan stempel
2. Untung: Miliaran sampai triliunan rupiah
3. Risiko: Jika apes, masuk penjara 4-10 tahun
4. ROI: Keluar penjara masih punya aset atas nama istri, anak, sopir, bahkan kucing peliharaan
Hitungannya sederhana: Rampok 100 miliar, dihukum 5 tahun, dipotong remisi jadi 3 tahun. Keluar masih sisa 80 miliar yang sudah “dicuci” rapi. Bandingkan dengan buruh yang nyuri sandal jepit: babak belur dulu, baru masuk sel.
Hukum kita bisa tegas ke maling ayam, tapi mendadak sopan ke maling uang negara. Ada ruang sidang ber-AC, ada pengacara seharga miliaran, ada “sakit” mendadak saat vonis. Setelah bebas, konferensi pers sambil senyum: “Saya khilaf”. Lalu hidup nyaman berlanjut.
Berkaca ke Tirai Bambu: Miskinkan Sampai Tujuh Turunan
Coba tengok ke China. Di sana korupsi bukan cuma soal masuk penjara. Pejabat korup bisa dihukum mati. Yang lolos dari regu tembak, hartanya disita sampai ke akar. Anak-cucu dilarang jadi PNS, bisnis keluarga diaudit habis, nama baik dihapus dari catatan. Negara benar-benar membuat rumus: Korupsi = Miskin Selamanya.
Hasilnya? Orang berpikir seribu kali. Karena yang dipertaruhkan bukan cuma 5 tahun hidupnya, tapi masa depan seluruh keturunannya. Rasa takut itu nyata. Jera itu ada.
Bandingkan dengan di sini. Pejabat korup keluar penjara disambut karangan bunga. Setahun kemudian nyaleg lagi. Anaknya jadi “crazy rich” endorse produk. Istrinya buka yayasan sosial. Lingkaran kemewahan tidak putus, hanya jeda sebentar.
Tiga Alasan Kenapa Korupsi Jadi Bisnis Favorit
Selama tiga hal ini tidak dibenahi, kita akan terus menonton drama yang sama: OTT, konferensi pers KPK, sidang, vonis, bebas, nyaleg lagi. Sebuah sinetron tanpa akhir yang dibintangi penderitaan rakyat.
Berhenti Menari, Mulai Menghitung
Rakyat tidak butuh pejabat yang jago joget. Rakyat butuh pejabat yang takut. Takut miskin, takut hina, takut anak-cucunya menanggung malu seumur hidup.
Kalau korupsi masih dianggap bisnis dengan risiko yang bisa dimitigasi, maka jangan heran kalau pesta di atas penderitaan ini akan terus berlangsung. Pertanyaannya: sampai kapan kita rela jadi penonton yang tepuk tangan sambil kelaparan?
Kemewahan mereka dibayar dengan pajak kita. Diam kita adalah restu bagi pesta mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar