Sabtu, 30 Mei 2026

 Pertemuanku dengan seorang gadis bernama Ejna

Matahari sore Kota Pekalongan  di akhir era 90-an membias warna keemasan, memantul di pertelon kampung Klego. Bagi Abi, ada sebuah lagu yang bukan sekadar hiburan semata.

Lagu itu adalah rangkuman mutlak dari isi hatinya selama tiga bulan terakhir. Lebih tepatnya, sejak gadis bernama Ejna bertemu di gang sempit di dekat pertelon itu. Abi mengeratkan pegangannya pada tiang pinggir tembok saat seseorang berjalan melalui gang sempit. Kejadian yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, persis seperti lirik lagu Oh Yaaa.

Semuanya bermula di saat Abi duduk duduk pada tempat tetangga di daerah klego yang disampingnya ada jalan tepatnya gang sempit menuju jalan cempaka. Abi sedang asyik mengobrol dengan sepupu bernama Ahmad Nasim, dan tiba tiba ketika sebuah bayangan mendekat. Aroma Alatas parfum melati yang lembut dan akrab langsung menyerbu indra penciumannya sebelum sosok itu melihat aku yang tiba-tiba jatuh cinta.

Abi hampir  bertanya pada sepupuku, siapa dia bro?? Tanyaku.  Oooh, itu kan anaknya Muhammad bin Ali Alatas yang punya toko obat. .

"Ya?" Abi menoleh, menatap langsung ke dalam sepasang mata bulat milik Ejna. Jantungnya mulai memainkan irama yang tidak beraturan.

Abi merasa dunianya runtuh sekaligus melambung ke langit ke tujuh dalam waktu bersamaan. Skenario macam apa ini? Bagaimana bisa seorang gadis muda berwajah polos bisa membuat seorang pria menjadi terpana dan tidak berkedip.

Melihat Abi yang mematung dengan wajah memerah, Sepupuku hanya tersenyum saja. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Abi lekat-lekat. "Kalau emang suka, bilang aja kali, Mas. Enggak usah malu-malu kucing begitu. Lagian... siapa tahu dia enggak keberatan kok kalau memang jodohnya."

Abi menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemuruh di dadanya. Ia membayangkan wajah Ejna, mengulas senyum tipis yang dipaksakan untuk terlihat tenang, lalu melontarkan kata penyangkalan yang paling aman, paling manja, sekaligus paling menggemaskan yang bisa ia pikirkan saat itu.

Abi membuat sebuah keputusan. Senyumnya lebar. Persetan dengan gengsi. Besok aku harus ngomong sama pamanku bahwa aku tertarik untuk menjadikan Ejna seorang istri dan  memastikan bahwa kata "Oh, yaa" itu akan berubah menjadi sebuah kepastian di depan pintu rumah Ejna.

Itulah kisah pertemuanku dengan gadis bernama Ejna, sebuah kenangan manis yang tak pernah aku lupakan hingga saat ini .

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar