Seri Cerita Romantis : Neng Rina Gadis Periang dan Cantik.
Senyum di Bangku SMP
Aku masih ingat dengan jelas masa-masa duduk di bangku SMP. Di tengah hiruk pikuk anak-anak sekolah yang sibuk dengan dunia remaja mereka, ada satu sosok yang selalu mencuri perhatianku. Namanya Neng Rina.
Dia bukan hanya sekadar murid biasa. Neng Rina selalu tampak ceria, senyumnya seperti cahaya yang mampu menghangatkan siapa pun yang melihatnya. Wajahnya bersinar, penuh keramahan, membuat semua orang betah berada di dekatnya. Tak heran jika ia menjadi salah satu gadis favorit di sekolah kala itu.
Aku sendiri sebenarnya belum benar-benar mengerti soal rasa suka. Masa pubertas seolah masih jauh untukku. Tapi entah mengapa, saat melihat Neng Rina, ada sesuatu dalam diriku yang berbeda. Aku tahu betul, meskipun masih polos dan belum mengerti banyak hal, bahwa dia adalah seorang gadis yang menawan.
Di setiap kesempatan, aku hanya bisa mengamati dari kejauhan. Melihat caranya tertawa bersama teman-teman, mendengar suaranya yang ringan ketika berbicara, dan memperhatikan langkahnya yang selalu penuh semangat.
Aku tidak pernah berani menyapa lebih dari sekadar basa-basi. Mungkin karena aku merasa diriku bukan siapa-siapa dibandingkan dengan lingkaran pertemanannya yang ramai. Namun, satu hal yang selalu tertanam dalam ingatanku—senyum Neng Rina.
Senyum itu yang kelak, tanpa kusadari, akan menjadi awal dari sebuah kisah panjang yang tak pernah kuduga.
Percakapan Pertama
Hari itu suasana kelas sedang ramai. Guru belum datang, dan sebagian besar anak sibuk bercanda, melempar kertas, atau sekadar tertawa tanpa alasan. Aku duduk di bangku pojok, seperti biasanya, tidak terlalu menonjol.
Tiba-tiba, suara yang begitu akrab di telingaku terdengar.
“Eh, boleh pinjam penggaris nggak?”
Aku menoleh, dan betapa kagetnya aku saat melihat Neng Rina berdiri di samping mejaku. Senyumnya mengembang, seperti biasa, sederhana tapi mampu membuat jantungku berdebar lebih kencang.
“Oh… iya, ini,” jawabku terbata, buru-buru menyodorkan penggaris yang ada di meja.
“Makasi yaa,” katanya ringan sambil melangkah kembali ke bangkunya.
Percakapan itu sederhana, mungkin baginya biasa saja. Tapi untukku, itu adalah momen yang tak terlupakan. Untuk pertama kalinya aku merasa ada jarak yang terhapus. Aku bukan lagi hanya seorang pengamat dari kejauhan, melainkan bagian kecil dari cerita yang melibatkan Neng Rina.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan lebih detail. Cara ia menulis, bagaimana ia bersenda gurau dengan teman-teman, bahkan ketika ia serius memperhatikan guru menjelaskan. Ada sesuatu yang menarik dari dirinya—bukan hanya karena ia populer, tapi karena ada ketulusan yang jarang dimiliki orang lain.
Namun, aku masih tetap diriku yang sama. Pemalu, lebih suka diam, dan hanya menyimpan semua rasa itu dalam hati.
Aku tidak tahu apakah pertemuan kecil ini akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar, atau justru hanya sekadar angin lalu. Tapi yang jelas, untukku, itu adalah percakapan pertama yang akan terus kuingat.
Sisi yang Tidak Semua Orang Tahu
Sekolah kami selalu riuh setiap jam istirahat. Suara tawa, langkah kaki yang berlari di lorong, dan aroma jajanan kantin bercampur menjadi satu. Biasanya, aku memilih tetap di kelas atau duduk di dekat perpustakaan. Tempat yang sepi membuatku merasa lebih tenang.
Suatu hari, tanpa sengaja, aku melihat Neng Rina berjalan ke arah taman kecil di belakang sekolah. Bukan dengan teman-temannya, melainkan sendirian. Rina yang kukenal biasanya selalu bersama gengnya, penuh canda tawa, tapi kali ini berbeda.
Aku hanya mengintip dari kejauhan, duduk di bangku panjang dekat perpustakaan. Dia membuka buku catatan, lalu menulis sesuatu dengan serius. Sesekali, wajahnya terlihat murung, tak seperti senyum ceria yang biasa ia tunjukkan di depan banyak orang.
Ada rasa penasaran yang muncul. Siapa sebenarnya Neng Rina, selain sosok populer yang dikagumi banyak orang? Apakah ia juga punya keresahan, sama seperti diriku yang sering merasa tak dianggap?
Entah dorongan dari mana, aku memberanikan diri berjalan mendekat.
“Kamu suka nulis juga, ya?” tanyaku pelan.
Rina terkejut sejenak, lalu menutup bukunya. Senyumnya muncul lagi, meski tidak selebar biasanya.
“Iya… kadang-kadang. Kalau lagi banyak pikiran,” jawabnya singkat.
Aku terdiam. Baru kali ini aku melihat sisi rapuh dari dirinya. Ternyata, di balik keceriaan dan popularitasnya, ada ruang sunyi yang dia simpan rapat-rapat.
Hari itu, aku belajar satu hal: Neng Rina bukan hanya sekadar gadis ceria favorit banyak orang. Dia juga seorang manusia biasa, yang punya beban, rahasia, dan sisi lain yang tidak semua orang tahu.
Dan sejak saat itu, aku merasa… sedikit lebih dekat dengannya.
Sejak percakapan singkat di taman itu, ada yang berubah. Kami mulai saling menyapa lebih sering, meski masih sederhana. Kadang hanya sekadar,
“Udah belajar buat ulangan belum?”
atau
“Eh, PR Matematika udah selesai?”
Namun, setiap kali aku berbicara dengannya, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Suatu sore, ketika semua murid sudah pulang, aku tak sengaja bertemu Rina lagi di taman sekolah. Ia tampak sibuk menulis di buku catatannya. Aku memberanikan diri duduk di bangku seberangnya.
“Apa yang kamu tulis?” tanyaku, agak ragu.
Dia tersenyum kecil, lalu menjawab, “Cuma cerita-cerita aja. Aku suka bikin semacam diary. Nulis bikin aku lega.”
Aku mengangguk pelan. Saat itu aku merasa seperti menyimpan rahasia kecil bersama Rina—sebuah sisi dari dirinya yang tidak semua orang tahu.
Sejak itu, kami sering berbagi cerita ringan. Tentang guru yang galak, tentang cita-cita masa depan, bahkan tentang hal-hal kecil seperti jajanan favorit di kantin.
Aku tahu, ini mungkin bukan hal besar baginya. Tapi untukku, setiap percakapan terasa seperti harta karun.
Janji di Bawah Langit Senja
Hari itu langit sore berwarna jingga keemasan. Setelah kegiatan ekstrakurikuler, aku dan Rina berjalan pulang bersama. Melewati lorong-lorong gang kecil menuju rumah dan melewati kantin sekolah yang letaknya di belakang sekolah buat pulang sekolah ke arah timur sekitar jalan Mohamad Toha.
“Eh, kamu mau jadi apa nanti kalau udah besar?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Aku belum tahu. Tapi aku pengen bisa bikin sesuatu yang berguna… buat orang lain.” Paling tidak bisa membuat orang bahagia, sambil bergurau dan tertawa kecil".
Rina tersenyum, matanya memandang jauh ke langit senja.
“Kalau aku… pengen jadi guru. Aku pengen bisa bikin orang lain semangat belajar, kayak aku semangat kalau lagi ketemu orang yang bikin aku nyaman.”
Aku menoleh, mencoba mencari makna dari kata-katanya. Tapi sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, dia tertawa kecil dan menambahkan,
“Pokoknya jangan lupa ya, kalau nanti kita udah besar, kita masih harus inget masa SMP ini. Janji ya?”
Aku mengangguk.
“Janji.”
Itu adalah janji sederhana, yang terucap di bawah langit senja. Aku tidak tahu apakah kelak kami benar-benar akan menepatinya. Tapi yang pasti, hari itu aku merasa bahwa hidupku berubah—karena hadirnya seorang gadis bernama Neng Rina.(Bersambung saat di SMA)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar