Rabu, 30 April 2025

 

Dilema Manusia Modern : Antara Jabatan dan Konsistensi

Di era modern ini, pencapaian jabatan tinggi menjadi simbol keberhasilan dan kebanggaan. Tak sedikit orang berlomba menapaki tangga karier dengan semangat membara. Namun, seiring meningkatnya posisi, meningkat pula ujian terhadap nilai-nilai yang dulu dijunjung tinggi. Di sinilah dilema manusia modern bermula: antara mempertahankan konsistensi integritas, atau tergelincir dalam godaan yang datang bersamaan dengan kekuasaan.

Jabatan, pada hakikatnya, adalah amanah. Namun dalam praktiknya, posisi strategis sering kali membuka peluang memperkaya diri, baik secara halus maupun terang-terangan. Tawaran fasilitas, akses, dan kekuasaan menjadi ujian nyata terhadap prinsip. Di sinilah konflik batin mulai muncul. Saat seseorang dihadapkan pada situasi di mana ia bisa “memainkan peran” untuk keuntungan pribadi, suara hati kecilnya mungkin berbisik lirih: “Bukankah ini kesempatan emas?”

Godaan datang tidak hanya dari luar, tapi juga dari dalam diri sendiri—keinginan untuk hidup lebih nyaman, gengsi sosial, bahkan tekanan keluarga. Di saat inilah menjaga integrity bukan lagi sekadar jargon etika, melainkan pertarungan batin yang berat. Seseorang mungkin tampak tenang di luar, namun jiwanya berkecamuk antara logika pragmatis dan suara nurani.



Namun pada akhirnya, pilihan tetap di tangan kita. Kita bisa memilih jalan yang mudah dan cepat, atau tetap berdiri teguh di atas nilai-nilai yang kita percaya. Konsistensi bukanlah tentang selalu sempurna, tapi tentang tetap setia pada kompas moral ketika badai datang menggoyahkan arah.

Banyak orang hebat yang mungkin tak terkenal, karena memilih diam dalam integritas. Tapi mereka hidup tenang, tanpa beban dosa masa lalu. Sementara ada pula yang berhasil meraih puncak, namun jiwanya kosong karena mengorbankan nilai-nilai suci demi gemerlap dunia.

Dalam dilema ini, setiap kita diuji. Bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih, tapi seberapa teguh hati menjaga konsistensi di tengah gelombang godaan. Dunia mungkin menilai dari pencapaian, tapi akhirat menimbang dari kejujuran niat dan laku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar